Bangkit Dari Kubur

 

 

Hai, kawan-teman semua… Saya baru bangkit dari kubur.

Sudah lama situs ini tidak terperhatikan, tak dapat mengingat dengan pasti, sepertinya sudah empat sampai lima bulan yang lalu. Semangat saya yang kelewat tinggi ketika pertama kali membuat website ini ternyata—mungkin—hanya anget-anget tai ayam.

Lalu apa? Mari mengingat-ingat. Hidup cukup normal. Tak lebih, tak kurang. Seperti orang selalu bilang “Saya baik-baik saja.” Ya, kah? Tak juga sebenarnya. Cukup banyak yang terjadi. Tentang hidup. Huekk. Membosankan. Tak terlalu menarik untuk dituliskan, karena mungkin banyak hal-hal yang telah terjadi justru ingin dilupakan.

Banyak hal-hal menarik yang saya temui selama berada di dalam kubur. Beberapa hal bahkan dapat dikategorikan mempesona — buat saya. Torehan berdebu, titik-titik kecil, diam melamun, tuturan diluar akal sehat, dan berjalan mundur, adalah beberapa hal yang akan saya ceritakan dalam beberapa kali kesempatan ke depan.

Baiklah… Dengan semangat yang—nampaknya sedang—tinggi, saya akan mencoba menulis lagi, mengisi halaman-halaman kosong di situs ini kembali. Saya akan memulainya dengan sebuah pilihan kata yang menurut saya sangat indah dan tulus. Sebuah kata yang sering saya gunakan untuk menyapa orang-orang hebat di pagi hari.

 

 

‘NingMor.’ Ya, diambil dari ‘Morning’ yang suku katanya dibaca terbalik. Saya sangat mencintai pagi dan apapun yang turut serta bersamanya. Matahari terbit, semangat orang memulai hari, jalanan lengang, udara yang segar, penjual sarapan, air kamar mandi yang berasal langsung dari kulkas, percakapan ngalor-ngidul, dan lain-lain. Apapun yang terjadi di pagi hari terasa benar, tulus, dan jujur.

Saya mengutip sebuah kalimat yang pernah saya baca di sebuah buku traveling “Berjalan kaki lah di pagi hari, sebelum karakter asli tempat itu tertutupi dengan berbagai aktifitas perniagaan, turis, dan lainnya.” Saya setuju sekali. Maka dari itu, saya senang berjalan kaki di pagi hari. Dari daerah tempat saya tinggal hingga tempat-tempat yang saya kunjungi. Aktifitas ini terasa sangat menyenangkan. Mengapa? Karena begitu banyak  hal menarik yang dapat kita temui—sengaja maupun tidak—sepanjang perjalanan.

 

A lonely tree, salah satu pohon favorit saya.

Dahulu, saya sering merasa linglung dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti ini: Pukul berapa pagi hari dimulai? Jam sebelas siang masih termasuk pagi, kah? Subuh itu pagi atau Subuh? Dan lain-lainnya. Hingga beberapa hari yang lalu, saya mencoba untuk cari tahu.

Pagi hari ternyata tidak hanya sekedar pagi hari. Pagi hari memiliki anatominya sendiri, terdiri dari ruang-ruang waktu, dengan batas-batas antara satu dan lainnya yang bisa dibilang cukup signifikan jika kita memperhatikannya.

Saya akan mencoba menjelaskannya dengan tingkat pemahaman anak SD. Yang dinamakan pagi hari adalah, dimulai saat kita berangkat sekolah hingga terdengarnya suara adzan Dhuhur di tengah hari. Selama berada di dalamnya, tersenyum dan sapalah orang lain dengan berucap “Selamat pagi…”

Jauh sebelum kita berangkat ke sekolah, terjadi beberapa proses perubahan dari gelap ke terang yang sangatlah mempesona.

Proses peralihan langit sudah dimulai 2-3 jam sebelumnya. Diawali saat langit berubah dari gelap menjadi biru tua. Waktu-waktu ini dalam istilah Bahasa Inggris disebut ‘twilight’ — bukan Edward Cullen, ya, kalian mau ngomong itu, kan? Atau lebih spesifiknya, twilight di pagi hari dinamakan ‘dawn.’ Dalam bahasa Indonesia, twilight adalah ‘aram-temaram.’ Hmmm… Kata yang cukup unik walaupun rasanya jarang ada yang menggunakannya dalam keseharian. Para fotografer sering menyebutnya sebagai ‘blue time.’ Sampai saat ini, belum ada sapaan yang pas untuk digunakan pada waktu aram-temaram. “Selamat aram-temaram.” Ah, tak enak rasanya.

Twilight dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Astronomical Twilight, Nautical Twilight, dan Civil Twilight. Benar-benar istilah yang sangat keren. Jangan coba-coba membahasa Indonesiakannya.

Gampangnya, Astronomical Twilight adalah waktu aram-temaram yang paling baik untuk melakukan observasi astronomi, keadaan langit yang paling seimbang untuk melihat bintang-bintang di langit. Nautical Twilight, sesuai namanya, adalah aram-temaram yang masih bisa digunakan untuk navigasi kelautan sebelum dikonsumsi kegelapan malam. Dan Civil Twilight, sudah tentu merupakan aram-temaram yang dapat kita lihat dengan mata telanjang. Bahkan dari tempat tidur kita, asalkan punya tempat tidur, jendela, dan tidak malas untuk bangun pagi.

 

Fajar di Bukit Bintang, Dago. 

Setelah waktu aram-temaram berakhir, kita memasuki wilayah waktu yang paling mempesona, yaitu Golden Hour.

Bahasa Indonesia menyebutnya “Jam keemasan.” Adalah sebuah masa ketika langit terlihat sangat indah. Pada penampilan terbaiknya, langit bisa memancarkan enam warna sekaligus, lembayung, oranye, kuning, merah, ungu, dan nila. Bayangkan, enam warna dalam satu waktu. Whaooo…

Di waktu-waktu inilah matahari terbit dari kaki langit sebelah timur, dan seketika itu, segala sesuatu di bumi ini menjadi lebih baik. Fajar. Ya, saya lebih senang mengatakannya begitu ketimbang sunrise, terdengar seperti tempat print-print-an.

Jika kita masih ingat pelajaran waktu sekolah dulu tentang planet Venus. Planet ini memiliki julukan “Bintang Fajar,” hal itu tentu saja sangat beralasan. Venus hadir di sisi timur pada saat aram-temaran dan jam keemasan di pagi hari berlangsung, dan hanya pada saat itu saja. Venus tampak sebagai bintang yang sangat besar dan terang. Venus adalah salah satu dari 3 benda di angkasa yang sinarnya dapat menciptakan bayangan.

 

Bintang terang dan besar di sebelah kiri adalah Venus. Civil Twilight di Ranca Upas.

Lha, kalau Subuh? Subuh adalah waktu sholat di saat aram-temaram, sebelum fajar. Allah tidak menyebutkan secara spesifik dilakukan pada Astronomical, Nautical, atau Civil Twilight. Hehehe…

Menurut saya, yang namanya pagi hari adalah semua hal yang saya coba jelaskan di atas. Mulai dari Astronomical Twilight hingga bel masuk istirahat kedua di sekolah berbunyi. Dan itu, ketika banyak hal-hal menarik terjadi.

Saya akan berbagi beberapa foto yang sempat saya ambil ketika berjalan-jalan di pagi hari.

 

In a misty morning. Ranca Upas.

 

Gedung Merdeka, Jln. Asia Afrika Bandung pada jam keemasan.

 

Jalan menuju perumahan nggak penting Ciputra.

 

Observatorium Bosscha. Sayang sekali tempat menakjubkan ini sekarang menjadi kurang layak fungsinya karena polusi cahaya dari daerah sekitarnya.

Ah, saya banyak melantur. Alih-alih bercerita tentang hal-hal mempesona yang saya temui dalam kubur selama empat sampai lima bulan, saya malah bercerita tentang pagi. Bahkan judul “Bangkit Dari Kubur” pun tak ada sangkut pautnya dengan pagi. Mungkin saya hanya suka kalimat itu, mengandung zombie, tanah meletek, tangan buntung gerak-gerak, jasad berjalan, dan pohon kering tak berdaun. Keren.

Beberapa hal yang tadinya ingin saya sampaikan adalah astro-photography, chalk-art lettering, Sisi Lain Bumi, dan sebuah pemikiran tentang Bandung yang seharusnya masih Bandoeng. Hhhmmmm… Mungkin nanti saja. Saya sambung lain waktu…

Onwards,
Pambudi



One Response to “Bangkit Dari Kubur”

  1. kristin says:

    jika kita pahami dan syukuri, hidup itu indah
    apa yang disampaikan….menawan hati
    semoga ini sangat bermanfaat agar kita bisa lebih bersyukur dalam melihat alam dan kebesaran Sang Pencipta

Leave a Reply