Ramadhan Ramadhan 1433 H

 

 

Ayat di atas adalah salah satu hadis paling terkenal tentang perintah untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Berasal dari Surat Al-Baqoroh ayat 183.

Bagi saya, ayat ini punya cerita lain. Tahun 1993 adalah ketika saya sedang menempuh pendidikan MTs (Madrasah Tsanawiyah) di pondok pesantren Assalaam, Surakarta — jenjang pendidikan setingkat SMP. Pondok pesantren merupakan tempat yang ketat, banyak aturan, dan disiplin. Tempat pendidikan yang ditujukan—mungkin—memang untuk membentuk karakter seseorang pada usia dini.

OP3MIA adalah lembaga santri—seperti OSIS—yang berperan untuk menjaga kehidupan kepesantrenan. Salah satu divisinya adalah Ta’lim — divisi yang mengurusi tentang perilaku santri. Merupakan salah satu divisi yang paling ditakuti, karena para santri yang terbukti melanggar perilaku yang dilarang akan dipanggil dan mendapatkan hukuman, seperti membuang sampah, makan berdiri, dll. Hukuman yang diberikan bermacam-macam, dari mulai menghapalkan hadis, ngepel, hingga dicukur botak di lapangan setelah Dhuhur. Semakin tinggi pelanggarannya, semakin berat hukumannya.

Entah kesalahan apa yang saya lakukan waktu itu, saya mendapat hukuman untuk menghapalkan ayat ini ketika pertama kalinya saya dipanggil oleh divisi Ta’lim. Ya, itu adalah puasa Ramadhan tahun 1993. Hampir 20 tahun yang lalu.

 

 

Sekarang adalah Ramadhan 2012. Saya sendiri tak tahu kenapa saya ingin menulis tentang hal ini. Ramadhan 1433 H, jatuh di bulan Juli hingga Agustus 2012.

Untuk pertama kalinya, terjadi perselisihan tentang kapan dimulainya Ramadhan di Indonesia. Perselisihan seperti ini biasanya muncul ketika hendak menentukan 1 syawal. Saya yakin, perbedaan seperti ini pernah terjadi di masa lalu, yang bikin asem adalah media mengangkatnya secara berlebihan. Saya menganggapnya sebagai drama. Drama yang tidak perlu.

Perbedaan dinilai sebagai sebuah potensi untuk mengembangkan cerita. Sikap-sikap teladan seperti saling menghargai, menghormati hak asasi, toleransi antar ormas, menjaga kerukunan intra-agama, dan open-mind terhadap perbedaan justru dikesampingkan.

Pemerintah melalui Departemen Agama rasanya juga tidak bisa mengayomi keadaan ini dengan baik. Saya khawatir, perselisihan seperti ini akan kembali dihiperbolis di masa depan ketika hendak 1 Muharram, Isra’ Mi’raj, Idul Adha, Maulud Nabi, dan lain sebagainya.

 

 

Rasa-rasanya, Ramadhan selalu punya makna di hati setiap insan manusia.

Teman saya mengungkapkan bahwa Ramadhan adalah milestone. Bagi teman saya yang lain, Ramadhan berarti bisa makan kolak kesukaan buatan ibunya. Ada yang berkata Ramadhan itu bulan boros banyak pengeluaran. Apapun maknanya, saya rasa bulan ini selalu spesial bagi siapapun yang merasakannya. Sekalipun bagi yang tidak beragama Islam.

Saya pribadi, saya selalu suka suasana ketika bulan Ramadhan, atmosfir khas bulan Ramadhan. Rutinitas pribadi, keadaan kota yang berubah drastis dari biasanya, penjual tajil dadakan, suara orang ngaji yang terdengar melalui pengeras suara masjid, makanan khas Ramadhan, itikad untuk berbuat baik, rush menjelang buka puasa, sampai yang paling mengganggu adalah petasan.

Tiap-tiap daerah cenderung memiliki kekhasan tersendiri dalam menyikapi bulan Ramadhan. Di Semarang ada Dogderan menjelang puasa, Pekanbaru merayakannya dengan ritual terjun ke sunga Siak, dan karakteristik lainnya.

 

 

 

Iya, Allah pasti sayang sekali kepada kita sehingga dapat bertemu kembali dengan bulan Ramadhan.

Kemarin, di malam ketiga bulan Ramadhan, saya menyempatkan untuk melakukan Shalat Taraweh di Masjid belakang rumah, dekat sekali hanya berjarak sekitar 50m. Namanya masjid Ar-Rahman. Ini adalah masjid keluarga landlord di sini. Sehabis Sholat Isya sebelum Shalat Taraweh, khotib menyampaikan khutbah singkat. Berisi sesuatu yang biasa kita dengar, bahkan mungkin saking seringnya, masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Khutbah tentang kemuliaan-keiistimewaan Bulan Ramadhan. Entah kenapa, saya menyukai khutbah ini, menyampaikan hal mendasar, and that’s it.

Dari sekian banyak keistimewaan bulan Ramadhan sang Khotib hanya menyampaikan tiga di antaranya.

 

 

Nuzulul Qur’an — saat turunnya Al Qur’an ke bumi. Lailatul Qadr — taukah kamu tentang malam Lailatul Qadr? Yaitu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Dibelenggunya setan — baik buruknya diri kita adalah diri kita sesungguhnya, tanpa godaan setan. Tiga hal itulah yang disampaikan dalam ceramahnya. Saya hanya mengambil poin-poinnya saja. Silahkan memaknainya sendiri.

Long story short, Ramadhan masih menjadi Ramadhan di tahun ini, masih terasa seperti Ramadhan-Ramadhan sebelumnya. Buat saya, kehadiran bulan ini menjadi penyeimbang dalam kehidupan satu tahun. Niatan untuk berbuat baik ditunjukkan oleh orang-orang melalui sikap dan perilaku mereka di dalam bulan Ramadhan, memang tidak semua orang, sih. ”There is some good in this world” kalau kata Samwise Gamgee di epilog film The Lord Of The Ring, The Two Towers, “And it’s worth fighting for.”

Atau dengan kata lain…

 

 

Onwards,
Pambudi

 



Leave a Reply