Sisi Lain Bumi

 

Gambar di atas bukanlah image resmi dari Sisi Lain Bumi. Saya membuatnya dengan cara menggurat-guratkan kapur pada papan tulis saya yang baru.

Ada yang suka dengan sastra? Ada sebuah kesan dunia sastra itu horor, penuh dengan ketidakjelasan asa-angan-imajinasi-fantasi-ilusi, atau teman saya Krishna Kastubi biasa menyebutnya “Cahaya,” atau dengan kata lain “Ngaaaaaaahhhh.” Bukan hal-hal seperti itu yang ingin saya sampaikan. Dasarnya hanyalah untuk berbagi-bercerita — siapa tahu ada manfaatnya. Layaknya sehari-hari ngobrol, nge-tweet, update status, dan lain-lain, kesemuanya selalu membawa sesuatu yang ingin disampaikan kepada pihak lain. Itulah storytelling. Dan, itulah Sisi Lain Bumi…

Mari memulai…

Sisi Lain Bumi? Apakah itu? Yaitu, sebuah buku setebal 147 halaman, berisi kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh Gina Havier. Sisi Lain Bumi memuat dua belas cerpen. Kebebasan, kesedihan, pengkhianatan, cinta, dan kebahagiaan bisa dibilang merupakan tema yang mendasari cerita-cerita pendek di buku ini. Siapa yang bilang? Bukan saya pastinya. Menurut saya, buku ini bisa dibilang sukses menghadirkan hal-hal—yang so called tema—di atas dalam kesederhaan. Ih, sok tahu, siapa yang bilang? Saya tentunya…

Beberapa orang yang telah membacanya—tidak semua, tapi hanya beberapa—berkata “Bukunya serem, ada orang dimutilasi.” Ada juga yang bertestimoni “Horor. Banyak hantu-hantunya gitu.” Teman saya menyampaikan “Loba nu sureal-absurd gitu ceritana.” Itu mereka yang bilang. Bukan saya.

Memang. Cerita-cerita pendek di buku ini merupakan tipe cerita yang boleh jadi tidak mudah untuk ditemui di pasar penerbit-penerbit besar di Indonesia. Mencarinya di Gramedia hanya akan berujung menyia-nyiakan waktu saja. Anti mainstream? Tidak juga. Mungkin Gina hanya mencoba menjadi Gina.

Dalam perjalanannya yang cukup singkat, Sisi Lain Bumi telah berkembang menjadi sebuah bentukan lain — di luar kodratnya sebagai buku. Pada akhir tahun 2012, Gina mengadakan sebuah pameran seni bersama. Pameran unik yang merupakan sebuah respon terhadap buku Sisi Lain Bumi. Dengan kata lain, Sisi Lain Bumi adalah tanggapan terhadap Sisi Lain Bumi. Hhhfffttt, bolak-balik, seperti ngomong sama burung beo rasanya, ya.

Singkat kata, begitulah sekeping kisah tentang Sisi Lain Bumi… Panjang kata, beginilah Sisi Lain Bumi dari kacamata saya — walaupun saya tidak memakai kacamata…

 

 

Ya, dia adalah Gina Havier. Asli Indonesia bukan keturunan Spanyol.

Dia adalah dalang—saya membenci penggunaan kata-kata “dia adalah dalang”—di balik Sisi Lain Bumi. Semua cerita pendek yang ada di Sisi Lain Bumi episentrumnya ada di dalam kepala Gina. Di sebuah teras yang sangat ala kadarnya pada suatu sore, saya bertanya tentang apa yang ada di kepalanya hingga dia bisa menulis cerita-cerita itu, dengan hiperaktif Gina menjawab…

“Isi kepala saya? Banyak chaos, banyak sekali seperti badai. Kalau bisa digambarkan seperti tornado gitu. Saya berada di tengah-tengahnya. Banyak benda berada di dalamnya. Benda mana dulu yang bisa saya tangkep [untuk diceritakan]. Barang-barangnya indah dan bercerita sendiri, yang justru kalau mereka berhenti, mereka rusak. Jadi, tornadonya tidak pernah berhenti. Dan mereka selalu di situ berputar-putar.”

Hhhmmm… Rumit, ah…

Gina sendiri bukanlah seorang natural born writer yang ketika bayi lebih memilih bermain mesin ketik daripada buntut kucing. Tetapi, boleh jadi, dia adalah seorang storyteller. Mungkin. Saya tak tahu pasti.

“Dari dulu memang senang bercerita. Tapi dulu belum seneng nulis. Bercerita lewat gambar. Bikin komik. Bikin lukisan. Satu lembar satu gambar cerita.”

Tak lama berselang…

“Dunia yang sedang saya bangun ini berjalan cepat banget. Sedangkan menggambar itu kan butuh proses, jadi agak lama. Saat saya sedang menggambar adegan ini, ceritanya udah berjalan kemana, bahkan sudah menemukan ending-nya. Saya merasa ‘Tunggu, tunggu, tunggu…’ Saat itu, saya menemukan cara untuk mengejar pikiran saya yang cepat itu dengan menulis. Dan menemukan keasikan menulis sejak kelas 2 SMA.”

Maksudnya?

Hhmmm… Bloody damn self-belief isn’t it?

Selain seorang penulis dongeng, Gina adalah seorang desainer interior yang bekerja di Urbane. Dia juga menulis beberapa buku tentang desain interior. Menjadi seorang dosen di jurusan—yang sudah tentu gampang ditebak—Desain Interior Itenas. Dan, seorang seniwati komik dan ilustrator untuk melengkapi dirinya.

Suatu hari entah dimana dan kapan saya pernah bertanya “Dari banyaknya hal yang Gina kerjakan, mana yang paling disuka?” Dia menjawab “Hhhmmmm… Menulis fiksi, buku-buku interior, mengajar, menjadi desainer interior, dan ilustrasi.” Titik.

 

 

Mari bicara tentang buku Sisi Lain Bumi.

Sisi Lain Bumi adalah buku fiksi pertamanya. Buku setebal 147 halaman. Berisi kumpulan cerita pendek. Keseluruhan, ada 12 cerpen, walaupun yang ditulis di dalam daftar isi hanyalah sebelas cerita pendek. Kenawhy? Entahlah. Tanyakan langsung kepada Gina jika bertemu dengannya di jalan suatu saat nanti.

 

 

 

Selalu merasa bangga mempunyai buku yang ditandatangani langsung oleh penulisnya. Ini adalah buku Sisi Lain Bumi saya yang kedua, seperti tertulis di situ. Buku pertama saya hilang karena teledor, terjatuh entah dimana. Kalau diperhatikan buku ini ditandatangani pada 12 Desember 2012. Kebetulan yang betul.

Kedua belas cerita pendek itu adalah…

 

 

Gina membuka buku ini dengan sebuah cerita pendek berjudul “Pengantar Barang”. Cerita tentang seorang anak yang bekerja sebagai kurir, seorang teman gelandangan tunawisma, hari yang indah, robot-robot penjaga, dan seorang Dokter Mesin yang hanya menyisakan otak, jantung dan hati. Cerita pembuka selalu menjadi titik penting pada buku. “Pengantar Barang” adalah cerita yang pantas dan layak dijadikan cerita pembuka. Menempatkannya di awal adalah cara baik untuk membuka sebuah buku kumpulan cerpen.

Lalu ada “Anak Jalanan (Sebuah Cerita Cinta)”, yang merupakan cerita ke-3. Dari judulnya, orang mungkin akan mengharapkan cerita romantis yang berakhir bahagia selamanya. Tepat sekali. Romantis. Romantis ala Gina. Ini adalah sebuah cerita akan memberi kesan yang cukup dramatis kepada para pembaca. Mengkisahkan cerita cinta sepasang kekasih. Pilihan nama untuk kedua karakter utamanya sangatlah bagus “Altair & Vega”. Yup. Nama bintang di celestial. Altair dan Vega hidup bahagia berdua hingga suatu titik segala sesuatunya berubah 180 derajat dikali dua. Darah, pisau, dan mutilasi menghiasi kisah cinta Altair dan Vega setelahnya. Menurut Gina, cerita ini memiliki akhir yang bahagia, walaupun dengan cara yang sangat tidak lazim.

Terdapat sebuah halaman bertuliskan quote sebelum memasuki cerita. Quote itu berbunyi…

Quote ini. Hmmm… Mari kita menyebutnya “Kutipan”. Kutipan ini berasal dari cerita yang berjudul “Kebahagiaan Pangeran”. Dan saya berprasangka, cerita ini adalah salah satu cerita favorit Gina. Cerita ini mempunyai tiga elemen penting yang menjelma menjadi seorang Pangeran tampan, seorang Permaisuri, dan seekor harimau yang gagah. Mungkin harimau Bengal — yang pasti bukan Richard Parker.

“Sidang Akhir” adalah cerita yang ditempatkan setelah “Si Malin”. Kenawhy? Karena kedua cerita ini saling terkait. Di cerita ini, sangat jelas tergambar bahwas Gina mencoba memperlihatkan sudut pandang  lain dalam melihat sebuah permasalahan, atau dengan kata lain, persepsi yang berbeda untuk satu hal yang sama. Dalam cerita ini, Malin sesungguhnya bukanlah seorang anak durhaka yang tidak berbakti kepada ibunya. Ada orang lain yang mengkhianatinya dan membuat Malin tampak seperti anak durhaka. Semua itu terungkap di sebuah sidang akhir di kehidupan setelah kematian.

Sisi Lain Bumi. Saya tidak tahu apa yang menjadi daya tarik belahan bumi lain, sisi lain bumi—dalam arti yang sebenarnya—banyak menarik perhatian orang untuk berkarya. Banyak lagu, novel, film, komik yang menceritakan tentang belahan bumi lain. Beberapa yang saya pernah tahu, kebanyakan dari karya-karya itu bercerita tentang eforia. Di dalam dunia yang diciptakan oleh Gina, sebuah benda mempunyai keterkaitan dengan sebuah benda lainnya di sisi lain bumi. Sebuah benda di belahan bumi ini adalah bagian dari sebuah benda di belahan bumi lain.

Buku ini ditutup dengan cerita indah dalam wujudnya yang sesungguhnya. Cerita itu berjudul “Pemburu Kebahagiaan”. Salah satu cerita kesukaan saya. Seperti judulnya, mengkisahkan tentang seorang pemburu yang mencari kebahagiaan di dunia ini, mencoba dan mencari pengalaman tentang banyak hal di banyak tempat. Pada akhirnya, seorang manusia harus dapat tenang, menarik nafas dengan perlahan, memperhatikan apa yang ada di sekitarnya, dan menghayatinya secara menyeluruh. Sering terbukti, apa yang selama ini kita cari ternyata ada di sekitar kita, hanya saja kita seringkali lupa untuk melihatnya. Entahlah…

Itu adalah beberapa cerita yang ada di buku Sisi Lain Bumi. Buku yang hadir sebagai teaser dirinya “Ngetok orang lain untuk melihat diriku. Banyak yang bilang kalo Gina nulis lebih absurd lagi dari yang ada di Sisi Lain Bumi.” Buku ini adalah proyek self-publishing yang bekerjasama dengan nulisbuku.com. Klik http://nulisbuku.com/books/view/sisi-lain-bumi untuk informasi lebih jelas bagaimana membeli Sisi Lain Bumi.

Di akhir sebuah hari, di teras yang sama dan di waktu yang sama Gina berkata “Tidak hanya menjadi buku yang sekedar dibaca, tapi hidup bersama kita. Orang-orang sadar bahwa kehidupan yang kita jalani, kita bisa melihatnya dari sudut pandang yang lain, dan menjadi cerita baru.”

Begitulah kira-kira, dan saya rasa saya sudah tidak punya kata-kata lagi untuk dituliskan…

Mari membicarakan pameran… :D

 

Adalah sebuah pameran bersama. Karya-karya yang dipamerkan adalah tanggapan atau jawaban dari buku Sisi Lain Bumi. Itulah ide dasar dari penyelenggaraan pameran ini. Dan sejujurnya, ide yang bloody brilliant.

“Saya ingin tahu bagaimana pemikiran orang tentang buku tersebut. Saya senang membaca orang. Satu kejadian kalo dilihat oleh sepuluh orang yang berbeda, pasti [menghasilkan] sepuluh cerita yang berbeda. Buku itupun sama. Dibaca oleh 11 orang yang berbeda, karyanya beda-beda. Mereka memilih mana yang mereka suka, dan responnya beda-beda. Nggak ada karya yang sama pada akhirnya, walaupun ceritanya sama. Sama-sama ngambil Sisi Lain Bumi, output-nya beda. Lebih dari sekedar tulisan, tapi hidup di antara kita. Saya ingin melihat buku saya hidup dengan cara seperti itu.”

Pameran Sisi Lain Bumi dilaksanakan di Galeri Padi atau sekarang bernama Padi Artground pada 8 hingga 22 Desember 2012. 12 seniman dan seniwati—termasuk saya tentunya—berpartisipasi dalam pameran ini. Berlaku sebagai kurator adalah Dimas Arif Nugroho.

Pameran dimulai dengan—tentu saja—pembukaan. Dimas memberikan kata-kata kuratorial. Dilanjutkan dengan lawakan dari Ibunda Gina, pada kesempatan ini, Ibu Aryati banyak membeberkan aib-aib masa lalu tentang betapa freak-nya Gina terhadap dunianya sendiri — komik, ilustrasi, buku, dan lain-lain. Kemudian sang korban bully-an Ibunya sendiri melangkah maju, menyampaikan berpatah-patah kata dan memanggil para partisipan pameran—termasuk saya tentunya—, dan memperkenalkannya kepada tamu yang hadir.

 

 

 

 

 

Acara selanjutnya adalah sesi yang cukup unik, yaitu storytelling, atau dengan kata lain ngedongeng. Cerita yang dituturkan sudah pasti berasal dari buku Sisi Lain Bumi. Sebuah cerita yang berjudul “Kebahagiaan Pangeran”.

 

 

Bagi saya, tidak banyak kesempatan yang saya alami dalam hidup ini untuk bertemu dengan seorang storyteller yang sedang ber-storytelling. Kebanyakan dari kesempatan didongengin itu berasal dari masa kanak-kanak. Sebelum tidur, di sekolah, dan di TV ketika melihat Ria Enes & Susan, ataupun Kak Seto. Melihat seseorang yang melakukan hal ini lagi di saat ini, seketika membawa saya ke masa kecil. Mendengar atau melihat cerita yang dinarasikan sangatlah menyenangkan.

Inilah karya-karya seni yang dipamerkan…

 

“Off We Go To The Nighmareland” adalah tanggapan Andreas Cornelius terhadap cerita “Dalam Kegelapan”. Media yang dipilihnya adalah musik.

 

Karya fototografi dari Leonard Kawun dan Angga Latief ini berjudul “Perjalanan Si Kiri dan Si Kanan”. Merespon cerita “Sepasang Sepatu”.

 

Dua patung yang saling berhadapan, tampak seperti ada aksi reaksi di situ. Karya dari Ferdian Sahala Samosir. Karya ini tidak merespon secara spesifik sebuah cerita, seperti mencoba merespon suasana keseluruhan dari buku Sisi Lain Bumi.

 

Crime scene dari keenam korban dalam cerita “Enam Peluru” karya Classic.

 

“Si Pengantar” dari cerita “Pengantar Barang”. Karya ilustrasi dari Habibie Putranto.

 

 

Dua karya di atas hasil ilustrasi dari Wickana Laksmi, judulnya “Coming Out From The Dark” dan “Perfection”. Pensil di atas kertas. Masing-masing merespon cerita “Dalam Kegelapan” dan “Sisi Lain Bumi”. Saya selalu terkesan secara konstan dengan karya ilustrasi pensil. Sederhana dan jujur. Jadi keindahan yang nampak pun hakiki.

 

Begitu juga ini. Pensil merah di atas kertas hitam. Karya dari Zaldy yang berjudul “Sosok”. Menggambarkan karakter-karakter yang ada di dalam buku Sisi Lain Bumi.

 

Ini masih karya Zaldy. Benar-benar Sisi Lain Bumi. Taukah kalian, jika kita menggali terus ke dalam bumi hingga menembus ke sisi lain dari bumi, kita akan muncul di negara Venezuela. Tetapi, itu kalau kita tidak gosong ketika melawati inti bumi.

 

“! ieh” menanggapi—tanpa perlu dibilang lagi sebenarnya—”Sepasang Sepatu”. Karya instalasi dari Fajar Abadi.

 

Gambar-gambar kecil ini menempel di sela-sela karya lainnya. Berjudul “Sela-Sela” Cerita yang direspon Alam Muammar & The Weekenders adalah “Jendela 541″.

 

“(“)” entah dibacanya apa, papan catur berwarna shocking ini adalah karya dari Amanda Mitsuri, menanggapi cerita “Dalam Kegelapan”.

 

 

 

“Terbangun” adalah karya dari Gina Havier. Karya instalasi-interior yang merupakan respon dari cerita “Kebahagiaan Pangeran”. Cerita yang sepertinya sangat dia sukai dan banggakan.

Last but not least adalah…

 

 

 

Karya saya tentunya. Ibu saya cuman bilang “kok cuman urek-urekan di kapur doang, kyak guru SD.” Ya, memang. Tipe karya seperti ini biasa disebut chalk-art lettering. Apa yang saya butuhkan memang tidak berbeda dengan guru SD. Asalkan tersedia papan tulis, kapur, dan penghapus. Dapat dibilang, ini adalah karya yang dihasilkan dengan pemikiran yang dangkal. Apa yang saya sampaikan adalah elemen-elemen pendefinisi cerita “Anak Jalanan (Sebuah Cerita Cinta)”. Saya kasih judul “Altair dan Vega” sesuai nama karakter utama di dalam cerita itu.

Setelah pameran karya ini saya hapus. Karena saya berpikir, mungkin papan tulisnya bisa saya manfaatkan untuk hal lainnya. Di saat yang bersamaan Gina justru memiliki pemikiran yang lain…

“Bukan hanya sekedar tulisan. Menyampaikan sesuatu lewat tipografi, lalu chalk. Dan setelah pameran selesai dihapus. Sebenarnya, itu justru menariknya. Seperti sudah selesai mimpi trus kita bangun, nggak ada lagi tapi kita masih ingat. Nggak ada lagi fisiknya. Karya itu ada di ingatan orang-orang yang datang.”

Klik di sini untuk melihat dokumentasi proses pembuatan “Altair dan Vega”. Thanks to Krishna Kastubi for the wonderful documentation.

Itulah karya-karya seniman dan seniwati yang berpartisipasi dalam pameran Sisi Lain Bumi.

Ada bincang artist di hari terakhir pameran. Para seniman dan seniwati menjelaskan tentang karya-karya mereka.

 

 

Dengan berlangsungnya pameran ini, Gina merespon “Saya kaget dengan semua hasilnya. Saya nggak pernah berharap seperti apa. Karena memang saya menunggu, hasilnya seperti apa. Saya penasaran. Dan ternyata bener-bener beda-beda. Hasilnya membuat saya senang.”

 

 

Begitulah kira-kira Sisi Lain Bumi, baik buku maupun pameran, dari kacamata saya. Tetapi mohon maaf sebelumnya, saya benar-benar tidak memakai kacamata.

Onwards,
Pambudi

 



One Response to “Sisi Lain Bumi”

Leave a Reply to Krishna Kastubi